Ditulis oleh ; Agus Supriyadi

Purwokerto. Sabtu, 15 Januari 2011. Pukul; 21.37-23.40 WIB

Barang siapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi”. Q.S Ali-Imron 3; 85

Sobat embun (panggilan pembaca blog ini, maksa banget nggak sich? :p) pernah mendengar istilah “Asas Tunggal”?. Yups, antum benar! Yang dimaksud dengan asas tunggal disini adalah Pancasila. Masih ingat dengan butir-butir Pancasila yang terdiri dari 5 butir? Jika sudah lupa, selamat ya, antum sama dengan saya, sudah agak lupa juga cz udah jarang banget upacara bendera tiap hari senin. Huhui..

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Asas” memiliki arti; Sesuatu yang menjadi tumpuan berfikir atau berpendapat. Jika ditarik lebih luas lagi, itu juga berarti tumpuan bertindak. Sebab tidak mungkin kita bertindak tanpa berfikir terlebih dahulu. Tumpuan berfikir seorang muslim adalah Alquran dan Hadist (Sunnah).

Jika ada pertanyaan; “Bagaimana jika ada yang lain??”. Maka akan ditanyakan kembali; “Apakah bertentangan dengan islam??”, jika tidak bertentangan maka dipersilahkan, tetapi jika bertentangan dengan nilai islam, maka jauhilah! Kesimpulannya, asas seorang muslim itu adalah islam. Jika ada asas-asas lain, maka tempatkan islam diatas semuanya.

Sedangkan kata “Tunggal” memiliki arti yang jelas yaitu Satu. Asas Tunggal Pancasila berarti tidak boleh ada asas lain kecuali Pancasila, yang menjadi tumpuan berfikir atau berpendapat di negeri ini. Seperti saat masa orde baru. Kalaupun ada yang lain, maka tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.

Lalu, masih adakah partai politik yang masih istiqomah dengan asas islam? Wallahu ‘alam bisshowab. Diantara mereka bisa jadi masih ada yang ingin mencantumkan islam sebagai asas partainya. Ada juga sebagian yang menolak dengan asas tunggal, namun tetap mencantumkan Pancasila sebagai asas partai. Dan golongan Nasionalislah yang benar-benar menginginkan Pancasila sebagai asas partai.

Para pelaku politik ada yang berpendapat bahwa Islam dan Pancasila itu tidak bertentangan. Mereka mengatakan, Pancasila ya Islam juga. Pertanyaannya, Apa benar begitu?

Memang harus kita akui bahwa ada nilai-nilai Islam terkandung dalam butir-butir Pancasila, namun tak berarti Pancasila identik dengan Islam.

Coba antum rehat sejenak, dan lihat di Negara (Indonesia) yang menjunjung idiologi Pancasila ini;

  1. Lokalisasi masih boleh berdiri, meskipun pelacuran liar tak dibolehkan. Dan biasanya kasus ini menjadi topic menarik bagi para English Debater. Sayangnya, mereka hanya senang berdebat dan membahasnya saja. Setelah itu? Bye Bye Ketombe..
  2. Minuman keras boleh dijual, meskipun kandungan alkoholnya tak memabukkan. Sedikitnya saja sudah subhat, apalagi banyaknya?
  3. Waria dan gay masih bebas bertebaran, bahkan melakukan seminar dan kontes kecantikan. Tahukah antum ikhwah? Ternyata Indonesia sempat dinobatkan menjadi tuan rumah pertemuan Gay dan Lesbi se Asia Tenggara. Namun hal tersebut langsung mendapat kecaman dan penolakan keras oleh teman-teman yang tergabung dalam Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas).
  4. Pelaku Korupsi, Zina dan Pemerkosa hanya mendapatkan hukuman penjara saja tanpa mendapatkan hukuman yang setimpal dan memiliki efek jera. Bayar pake duit juga beres, bisa bebas sebebas-bebasnya. Atau di suap aja Pengadilannya..
  5. Goyang sensual masih dipertontonkan di televisi. Dilihat oleh anak-anak dibawah umur, dan menjadi racun bagi para pemuda, karena mengacaukan mental dan merusak syaraf otak.
  6. Dan majalah porno masih bebas di pajang, seakan-akan lupa bahwa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi norma kesopanan, estetika dan bermartabat. Seperti kalimat yang sering dilontarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Taukah antum ikhwah? Untuk majalah Play Boy saja masih diperdebatkan status hukumnya. Halal, Haram, Mubah, atau Makruh? Itu disampaikan oleh orang islam sendiri. Dan yang lebih keren lagi, orang yang tadinya bukan siapa-siapa, kini seperti seorang ulama yang mengumbar-umbar fatwa. Masya Allah…

Fakta diatas tidak ditemukan saat kepemimpinan Rasulullah SAW dulu. Adakah sesuatu yang bisa menjadikan Indonesia lebih baik?

Pelajaran Pancasila atau Pendidikan Kewarganegaraan sepertinya menjadi kurikulum baku pendidikan di Indonesia yang kita cintai ini, dari mulai SD sampai bangku perkuliahan, pelajaran itu tidak pernah abstain. Sebagian besar isinya membahas tentang norma-norma dan aturan yang berlaku di Indonesia. Walaupun sebenarnya tidak memiliki multiple effect yang positif dan signifikan bagi peserta didik untuk menjadi lebih baik. Yang ada, mereka malah tertidur karena pelajarannya memang membosankan dan bikin ngantuk. Benerkan?

Disaat seorang Dosen sedang semangat-semangatnya mengajar dan menyampaikan mata kuliah Kewarganegaraan, salah seorang Mahasiswanya ada yang bertanya; “Maaf pak mau Tanya, di Indonesia ini, siapa orang yang PALING Pancasilais?”

BUKANNYA DIJAWAB, Eeeh..malah diusir. “Silahkan saudara keluar dari ruangan ini, jangan ikuti mata kuliah saya”.

Oh, Begitu ya Pak, Baiklah..”