Ditulis oleh; Agus Supriyadi
Purwokerto, 7 Desember 2009
Ust. Anis Matta, Lc, Berkata;

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi,,

Sebab memberi adalah pekerjaan,,

Sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat,,Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama,,
Sebab berat dan lamanya membutuhkan kepribadian kuat dan tangguh,,
Sebab itu setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.”..

Kepada siapa pun!

Karena itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.” Yang juga ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia.Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin..aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu..aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu..” Semoga kita menjadi hamba Allah yang tidak dengan mudah mengatakan “Aku mencintaimu” kepada orang lain.

Abdullah Nasyih Ulwah :

Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Ia merupakan fitrah yang dikehendaki oleh Allah ‘Azza wa jalla.

Muhammad Ibnu Daud Azh Zahiri :

Cinta adalah cermin bagi orang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui watak dan kelemah lembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Kerena sebenarnya ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengungkapkan :

Hubungan tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah cinta keduanya akan berakhir dengan saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan yang tidak diperoleh sebelumnya.

Anna Althafunnisa, Dalam Film KCB

Cinta..
Sekalipun cinta telah diuraikan dan dijelaskan panjang lebar..
Namun jika cinta kudatangi, aku jadi malu oleh keteranganku sendiri..
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan..
Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang..
Sementara pena, begitu tergesa-gesa menuliskannya..
Kata-kata pecah berkeping-keping, begitu sampai kepada cinta..
Dalam menerangkan cinta, akal terbaring tak berdaya..
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur..
Cinta sendirilah yang menerangkakn cinta..

Ikhwah Fillah, mari sejenak kita menilik petikan ayat suci alquran,

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Quran surat Yusuf : 53 :

53.“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.”

Ikhwah fillah… cinta sangat erat kaitannya dengan ma’rifatulloh. Hubungan dan kedekatan kita kepada Allah, rabb yang mengenggam jiwa dan hati manusia. Mungkin setiap orang memiliki definisi masing-masing tentang makna cinta itu sendiri. Dan bisa jadi memiliki gaya tersendiri dalam mengekspresikannya rasa mahabah itu. Ulama-ulama terdahulu pun demikian, sama halnya dengan kita. Mereka banyak mendefinisikan makna cinta dengan berbagai rangkai katanya. Yang pasti, apapun rasa cinta yang kita rasakan haruslah berorientasi pada marifatulloh. Rasa cinta hanya karena Allah.

Etika menjelang walimtul ursy dan Undangan Walimahan :

September-Desember adalah bulan-bulan dimana handphone saya sering mendapatkan undangan walimahan.Biasanya selalu saya balas dengan isi yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. “Ukhtie (Akhie) tetap jaga hati, tetap jaga komunikasi, semoga Allah memberi kemudahan”. Ana ingin agar saudara ana tetap terjaga keimananx sampai akad nikah selesai. Sebagaimana da’wah yang menjunjung tinggi nilai keberkahan daripada sekedar menggugurkan Proker wajihah. Komunikasi pra nikahpun wajib dijaga, agar kesucian hati dan kesucian diri tetap terjaga sehingga keberkahan itu senantisa dapat dirasakan. Berkah itu maknanya adalah Jiyyadatul Khoir. Bertambahnya kenikmatan/ kebaikan dari Allah.

Komunikasikan dengan baik kepada Murobbi atau Qiyadah :

Murobbi atau Qiyadah kita memang bukan segala-galanya. Murobbi kita tidak memiliki hak penuh kepada mutarobbinya ketika memilki niatan suci untuk mengenapkan separuh diennya dengan menikah. (murobbinya aja kalah. xiexie..). Tetapi memberikan rasa ta’dzim-hormat kepada murobbi dan qiyadah kita merupakan sesuatu yang mulia. Beliaulah yang membimbing kita agar niat yang suci ini senantiasa pada proses dan rel yang ihsan (baik). Menikah adalah suatu hal yang sangat mulia. Bahkan dalam sebuah hadits shohih dijelaskan bahwa ‘amalan yang harus disegerakan adalah menikah. Bahkan pemuda yang dikatakan Allah sebagai pemuda yang buruk adalah pemuda yang tidak menikah. Namun menikahpun bukan sesuatu yang abal-abal apalagi tanpa landasan dan niat yang jelas. Menikah harus memiliki visi dan misi dakwah yang jelas kedepannya. Disinilah murobbi berperan, agar keberlangsungan dakwah sang mutarrobi senantiasa terjaga dengan manhaj dakwah yang sudah sedemikian baik dan sistemic. Ada marhalah yang dicapainya.

Menikah karena Virus Merah Jambu (VMJ);

Jika itu merupakan rangkaian proses komunikasi yang telah berlangsung dari awal, maka hal ini merupakan perkara yang harus disegerakan (menikah-pen), menurut hemat saya, hal ini adalah suatu perkara dan niat yang baik serta tidak berlebihan jika memberi apresiasi kepadanya. Karena ada satu nilai keberanian dan tanggung jawab tersendiri, sehingga fitnah-fitnah segera terkikis dan kapal selam kemuliaanpun timbul kepermukaan.

Bukan hanya menundukkan pandangan tetapi juga menundukan hati. Bukan cantik yang menghasilkan cinta, tetapi cintalah yang membuahkan kecantikan.

Lalu bagaimana dengan cinta yang bersemi antar sesama aktifis dakwah??

Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Ia merupakan gerbang ekspansi pergerakan dan bertambahnya marhalah. Serta bukti nyata kecintaannya pada Allah dan Rasulnya. Jadi dalam hal ini, ada pengkhususan makna. Cinta sesama aktivis dakwah akan bermuara pada satu akad yang diimplementasikan dengan ikatan yang suci, yaitu menikah.

Kecenderungan manusia kepada keindahan adalah fitrah, tetapi juga merupakan ujian bagi manusia.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

14.Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

11. “Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat”.

Pentingnya nilai sebuah akad :

Dalam islam, akad memiliki nilai yang begitu tinggi. Akad dapat menghalalkan sesuatu yang haram, dan memubahkan sesuatu yang makruh. Hukum awal hubungan antar laki-laki dan perempuan adalah haram. Tetapi menjadi halal karena adanya akad nikah. Akad yang hanya 4-6 menit saja ternyata mampu menghalalkan sesuatu yang awalnya adalah haram. Begitupula dalam hal-hal lain seperti muamalah.

Chu Pat Kai (Dalam film Sun Go Kong, Kera Sakti) :
Begitulah cinta, deritanya tiada akhir. (Panglima Perang Tiang Feng).

Teringat sms tausyiah Teh Anna Fauziah Hamsyah : “Dua hal yang ditakuti oleh Ali.r.a yaitu panjang angan-angan dan memperturutkan hawa nafsu”.

Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga kader-kader dakwah dari rasa cinta-mahabbah ghoiru syariyyah (rasa cinta yang tidak dirahmati Allah.saw).

Rekomendasi :

1.Dalam liqo, materi tentang mahabbatulloh atau ma’iyyatulloh perlu dibahas.
2.Dauroh Maratus Sholehah atau Trandaska perlu ada pembahasan komunikasi Pra-Nikah, Cuma sayangnya gag ada khusus ikhwan yah :( .
3.Tegas terhadap lawan jenis bukan berarti memutuskan komunikasi apalagi sampai memutuskan tali silaturrahim. Oleh karena itu tetap profesional dalam bersikap.

Sepanjang ini…saya merasa aman dan dapat menjaga diri.
Walaupun informasi begitu hilir mudik mengetuk Hati.
Dan perbincangan tidak pernah surut menanti.
Saling intrik saling sindir itu menjadi hal yang biasa terjadi.
Dikalangan ikhwah itu sendiri.
Dalam forum pribadi atau Organisasi.
Atau berbeda tempat berdiri.
Ceplas ceplos..terkadang lebih mententramkan Hati.
Mungkin hanya ibu dan mba ica saja yang bisa memahami.
Yang lain masih bisa aku maklumi.
Salam semangat Akhi wa Ukhti.
Syukron dan sampai berjumpa lagi.
Pada notes agus dilain hari.
Jangan bosen untuk membaca dan mencermati.
Jangan lupa saling mentausyiahi.
Karena aku mencintaimu duhai akhie wa ukhti.
Karena Allah, Rabbul Izzati.
Allahu Akbar!!!