Ditulis oleh ; Agus Supriyadi

Purwokerto. Kamis, 13 Januari 2011. Pukul; 21.53-sempet di pending 10 hari :p

…akhwat yang siap menyokong dakwah suaminya, tidak jaim, dinamis dan lowprofile, mau membaur dengan masyarakat. Sehebat apapun dakwah suami, jika tidak diimbangi oleh istri yang seperti itu, maka hanya akan membuat image suami menjadi hancur. Dan dakwah sya’biyahnya menjadi kontraproduktif” – Agus Supriyadi

Hello everybody,,

Hare gene ngomongin nikah? Cuapek deh.. mending belajar aja sana lo gus yang bener, biar cepet lulus kuliah! Nikah mulu yang ada di otak lo..” :p

Upssh..! Mungkin ada dari antum yang berkomentar; “Kenapa sih harus ngebahas nikah? Nikah koq pake dibahas-bahas segala. Kayak kagak ada topic yang laen ajja, ganti ah!”.

Yeee.. kagak apa-apa kale.. emang ente kagak mau nikah? Biasa aja si kenapa… koq situ jadi sewot..hehee” (Saat ini saya tidak sedang membahas mau nikah atau tidak, karena semua orang pasti menginginkannya, kecuali mereka-mereka yang tidak normal dan melawan fitrahnya sebagai manusia. Disini saya hanya ingin berbagi ilmu dengan antum/na saja. Bolehkan?)

(*Oia, terlalu naïf sekali jika yang ada pada pikiran kader dakwah hanya Nikah saja)

_________________________________________________________

Bismillahirrohmanirrohiim..

Ikhwah fillah..

Saya mulai tulisan ini dengan senyuman hangat sepenuh hati dan jiwa saya (prêt lah, lebay!), berharap kepada Allah semoga yang membaca tulisan ini mendapatkan ilmu dan manfaatnya walaupun sedikit, insya Allah. Tolong juga doain saya biar dapet istri yang sholehah yah. (Multiple effect-nya begitu.‘Afwan nih kalo terkesan maksa.. Peace^^)

Tulisan saya tentang pernikahan ini merupakan bentuk rasa tanggung jawab saya kepada Ukhti Yeni Winarsih, S.Si (Alumni Mipa Unsoed. Ada yang kenal dengan beliau?). Sebelum beliau menikah, sempat menghubungi dan meminta tolong kepada saya untuk di buatkan tulisan tentang pernikahan. Tulisan saya ini niatnya ingin dijadikan buku risalah pernikahan oleh beliau, sebagai souvenir pernikahan. Tapi qodarulloh, saya belum memenuhi amanah beliau. ‘Asif jiddan ya mba, sampai detik ini saya masih merasa bersalah..

Sebelum dilanjutkan, mari ikhwah, sejenak kita doakan Ukhti Yeni Winarsih agar keluarga yang dibangunnya senantiasa diliputi rasa sakinah, mawaddah wa rohmah, wal barokah, diberikan keturuanan yang sholeh dan sholehah, dimudahkan urusannya dan dilapangkan pintu rizkinya, amiin.

Saya meyakini bahwa menikah merupakan ibadah yang sangat sakral dan suci, menikah terjadi satu kali dalam perjalanan hidup kita sehingga banyak orang yang benar-benar mempersiapkan diri untuk hari yang sangat istimewa ini (tapi lain ceritanya kalo suami poligami. Wad Dezing!). Menikah juga menggenapkan setengah dien dan menjadikan pelakunya diliputi rasa ketenangan. Pusaka pernikahan terletak pada proses akad nikahnya. Akad nikah menjadikan sesuatu hal yang haram menjadi halal hanya dalam hitungan detik saja. Dahsyat mbok? Saya semakin bersemangat nulis nich, mantap!😀 (Gubrak..! Bodo ah, lanjutin aja gus..ayo semangat!)

Disini saya tidak akan berbicara hukum tentang pernikahan dalam islam, karena sudah banyak artikel dan literature yang membahasnya. Saya ingin membahasnya dari sisi lain yang lebih alamiah, menurut saya. Saya hanya ingin berbagi ilmu dan pengalaman kepada antum. Tentunya bukan pengalaman saya, tetapi pengalaman dari orang yang sudah saya kenal dengan baik. Pembahasan pernikahan ini adalah hasil diskusi dengan beberapa ikhwan dan sharing pengalaman dengan ummahat, serta buku-buku tentang pernikahan yang saya baca.

  • Pilih calonmu yang ‘KLIK’!!; Fenotip (sifat yang tampak) itu dibentuk dari dua faktor yaitu, 30% dari factor genetic dan 70%-nya dibentuk karena ekosistem atau lingkungannya. Walau demikian, genetic tetap membawa sifat-sifat induknya. Baik bersifat dominan ataupun resesif. Maksud saya disini adalah, pilihlah calon pasangan antum yang genetiknya mendekati kesamaan dengan sifat, karakter dan emosi antum. Sehingga kita benar-benar nyambung dan nyaman. Jangan sampai modal ganteng sama cantik doang, tapi telmi (telat mikir), loading, dan disconnected dengan kepribadian kita.
  • Jangan lupa, “NIKAHILAH” Keluarganya; Menikah itu antara saya dan ‘orang lain’ yang nantinya menjadi istri saya, tanggung jawab dipikul bersama, saham  pun milik bersama. Namun yang perlu diingat ikhwah, menikah itu menjalin hubungan dan  ikatan keluarga, antara keluarga ikhwan (laki-laki) dan keluarga akhwat (perempuan). Jangan sekedar menikahi sang akhwat, setelah itu dibawa lari jauh-jauh. Keluarganya ditinggalkan begitu saja tanpa mau silaturrahim dan menjalin komunikasi dengan baik. Jadi yang ana maksud dengan menikahi keluarganya adalah, kita wajib menjalin hubungan, komunikasi, silaturrahim dan ikatan keluarga dengan sebaik-baiknya. Semua memiliki hak untuk itu. Saling menolong, menyokong, membangun, dan memikul beban. Walaupun memang hal tersebut tidak lantas menjadi sebuah kewajiban pokok. Tapi ingatlah, kita sedang membangun dakwah keluarga, bukan saja membangun rumah tangga pribadi kita semata.
  • Rumah Tangga Harmonis itu “Gak Gampang” harus tetap dibangun; Inget saudara-saudara sekalian, ini berlaku untuk semua pasangan pengantin. Menurut saya, kunci rumah tangga harmonis itu ada dua. Yang pertama ada pada jima’ (hubungan intim) dan yang kedua ada pada kondisi finansial (ekonomi) yang stabil. ‘Afwan mungkin terlalu berani(sebenernya nulisnya ana malu, tapi gpp lah ya cz ilmuIni kesimpulan ana pribadi dari dan artikel nikah yang ana baca). Semuanya sama, baik keluarga ikhwah ataupun bukan. “Tidak akan memuliakan perempuan kecuali seorang yang mulia, dan tak akan menghinakannya kecuali seorang yang hina”
  • Inilah Akhwat Idaman Aktivis Islam; Aktivis islam apa aktivis islam? Apa akhwat idaman saya yach? (*agus tersenyum simpul). Yaa, what ever-lah, jika memang ada manfaatnya ya tinggal di ambil, jika tidak ada yaa dicuekin aja, anggap saja cuma angin lewat, don’t be ribet. Minimal apa yang saya sampaikan menjadi masukan berharga untuk dakwah sya’biyah yang lebih baik lagi, khususnya bagi para akhwat. Karena peradaban islam yang pertama harus dibangun dengan baik adalah dari ranah keluarga
  • Akhwat yang siap menyokong dakwah suaminya, tidak jaim dan lowprofile, mau membaur dengan masyarakat. Sehebat apapun dakwah seorang suami, ketika tidak di imbangi dengan sosok istri yang bersahaja dan mampu bergaul dengan baik dimasyarakat, sepertinya ini menjadi suatu hal yang kontraproduktif untuk dakwah.
  • Harusnya seorang akhwat dapat meneladani sosok seperti Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk generasi saat ini. Gara-gara beliau, seorang pendeta sampai-sampai pindah rumah takut masuk islam karena tidak tahan dengan kebaikan beliau dalam bermasyarakat. Jangan sampai sikap jaim dan kaku seorang istri, malah membuat image suami menjadi runtuh dan yang saya amati sampai saat ini, kelemahan kader-kader kita berada pada ranah ini. Masih sangat jaim, dan tidak berani bergaul dengan masyarakat. Gak tau juga ya, mungkin pembawaan system kaderisasi di kampusnya. (Hush! Ngemeng aje lo gus! Bawa-bawa kaderisasi segala :D)

Tips memilih calon suami;

  1. Punya hafalan alquran minimal 1-2-3 juz; Ikhwan yang memiliki hafalan alquran, insya Allah dia adalah ikhwan yang cermat, rajin, sabar, telaten dan disiplin (Dari Kang Dede, Alhafidz, temen liqo SMA)
  2. Memiliki mutarobbi (memiliki binaan); Ikhwan yang memiliki mutarobbi, insya Allah dia adalah ikhwan yang senantiasa memahami tarbiyah islamiyah dengan baik, memahami tugasnya sebagai seorang ayah, ulama, syaikh, teman serta keluarga (Dari Ukhti Azizah, Sulawesi)
  3. Pilihlah calon suami yang sholat shubuhnya di Masjid; Ikhwan yang sholat subuhnya dimasjid, insya Allah ucapannya bisa dipegang, artinya ikhwan ini dapat dipercaya, berkata juju, disiplin serta berkemauan keras (Dari Akh Pidi Winata, Korpus BEM-SI 2009-2010)
  4. Berdoa, mengharap kriteria; memilih kriteria, berkeinginan dan berharap mendapat pasangan hidup sesuai keinginan hati adalah boleh, sah-sah saja, tidak bid’ah, tidak pula dihukumi haram. Semua orang punya hak. Intinya harus tetap di ikhtiarkan, tidak lantas pasrah begitu saja.
  5. Ikhwah, ada satu “jimat” yang tanpa disadari terkadang kita melupakannya. “Jimat” itu adalah DOA.Sebutkanlah kriteria pasangan yang menjadi dambaan kita, dari A sampai Z, dari harapan yang alay lebay, sampai yang terlihat imposible (serasa tidak mungkin). Tapi catatan terpentingnya adalah, jangan kaget jika nanti ada sifat calon pendamping hidup kita yang ternyata tidak  pernah (terlupakan) dalam doa-doa kita (Kalo ini dari mba ica, kakak ane). Mulailah dari sekarang berdoa kepada Allah agar mendapatkan suami/istri yang di inginkan. Ketika hujan, ketika gerimis, ketika sedang senang, ketika sedang melihat keindahan, ketika selesai sholat wajib atau Qiyamulail. Selipkanlah doa-doa antum ikhwah. Insya Allah dikabulkan. ^__^v

Perihal tentang poligami (beristri lebih dari satu);

“Insya Allah, ana tidak akan Poligami akh, tapi JIKA ada Kesempatan Emas, BOLEH juga tuh..”

Ini adalah becandaan ikhwan yang keterlaluan sepertinya, dan biasanya selalu ada disetiap diskusi pernikahan atau pembahasan tentang poligami. Dasar, domba berbulu musang.

Ada anekdot yang sudah familiar. Laki-laki akan berfikir 100x untuk berpoligami, sedangkan wanita akan berfikir 1000x untuk dipoligami dengan suaminya. Setau saya, siapapun orangnya, sesholeh apapun seorang akhwat, tetap saja berat hati jika harus dimadu dan di duakan dengan wanita lain. Benerkan?

INGATLAH BAIK-BAIK PESAN SAYA, SEMUANYA BISA DI IKHTIARKAN, INSYA ALLAH!!

SELAMAT BERIKHTIAR, SEMOGA MENDAPATKAN PASANGAN HIDUPMU…

Afwan, tulisan ini masih dalam editan, tapi udah gak sabar untuk di posting, masih banyak cacat, belom sempurna..harap maklum ya. Makasii..