Ditulis oleh; Agus Supriyadi
Purwokerto,9 Oktober 2010
*****
LULUS itu PASTI,
KAPAN itu PILIHAN,
Seorang aktifis TIDAK HARUS lulus TEPAT waktu,
Namun “HARUS lulus pada waktu yang TEPAT”
Semua itu akan indah dan manis pada waktunya, Insya Allah.
ADAKAH JUNDI-JUNDI BARU PENERUS DAKWAH..?
*****
Ikhwah fillah, ane awali tulisan ini dengan sebuah sms antara ane (Agus) dan Adistiar Prayoga (Puskomnas). Yuuk kita simak :

Agus-sent : “Yang lain sudah pada lulus, saya belum. Hiks hiks hiks T.T [nangis bombai]”

Adistiar-reply : “Kita sama”.

Agus-sent : “Abis gimana ya akh..tetep aja ada perasaan sedih gitu..semangatin ane dong..”

Adistiar-reply : “Farhan (Temennya Rancho- 3 Idiot) berkata : “Kita sedih bila melihat teman kita gagal, dan kita lebih sedih lagi ketika melihat teman berhasil”. Hee..he..semua itu akan manis pada waktunya, jemputlah waktu itu dengan kesungguhan, beda mimpi dan khayalan itu tipis. Sesungguhnya Allah mencintai seseorang diantara kamu apabila mengerjakan sesuatu dengan tekun dan bersungguh-sungguh.-hr.at-thabrani-

Agus-sent : “Antum kapan lulus akh? Pengen tau nih”

Adistiar-reply : “Rahasia dunk ^^v..”

Agus-sent : “Preet lah, pelit! Bikin males nih”

Adistiar -reply : “Berarti kalo ana lulusnya lebih dulu dari antum, antum tambah senang ya..^^v. Ayo berdoa agar yang kita lakukan kemarin, sekarang dan akan datang gak sia-sia. Amiin.

Agus-sent : “Antum rencana lulus kapan akh? ‘Afwan”

Adistiar-reply : “Waktu normal 2 tahun, itu klo kondisi normal juga, akh Adi Unila lebih lama daripada ‘qt’ “.

Agus-sent : “Wow…hmm. Yaa, terus semangat yaa akh. Salam sama ikhwah disana. Syukron jazakumulloh khoir. Waslm”

Adistiar Prayoga-reply : “Sama-sama . Waslm..”.

(Gak tau deh ini sms curhat atau apa, tapi kayaknya c iya ya. Hahahaha..)
*****

Nah, selanjutnya ana mau share sama antum (pembaca) ihwal peta hidup beberapa kader dakwah di Unsoed. Shohih atau tidaknya wallahu ‘alam bishshowab. Hoho..silahkan bagi yang merasa peta hidupnya ana tulis, boleh tersenyum koq. Kagak dilarang :

“Kalo di Purwokerto tidak mendapat maisyah (penghasilan), ana mau mutasi saja”.
“Insya Allah tahun 2012 menikah”
“Wah, ana sih nanti dulu aja nikahnya, masih punya dua ekor (maksudnya masih punya tanggungan adik kandung yang harus dikuliahin juga)”
“Pengen lanjut S2 lagi, kalo gak full Beasiswa dari Dikti, mungkin Beasiswa full dari suami”
“Ngapain antum lulus cepet-cepet, ngurusin kampus dulu sana yang bener”
“Insya Allah ana mau lanjut S2 di Jepang”. “Pengen S2 di Jepang nih..”
“Ana ngambil profesi”
“Ana mau jadi apoteker insya Allah”
“Ane mau kerja dulu saja, nanti kalo sudah punya modal cukup mau bikin usaha sendiri”
“Kayaknya ana gawe (kerja) dulu, bantuin ortu”
“Ane ngurus urusan rumah (masa depan)”
“Insya Allah ana siap bantu teman-teman di Jakarta (KamPus)”
“Ana mau ngembangin Kayyisu Excellent akh”
“Aduh, pikiran ana gak bisa terbagi akh, ana harus focus sama penelitian ana”
“Ga tau akh, sepertinya beliau sudah ada yang melamar. Ya wallahu alam akh”.
*****

Tulisan diatas, murni cita-cita beberapa kader dakwah (bukan ane). Sah sah aja mbok? ^0^” Kita tersenyum, Kaderisasi kampusnya yang mumet dan pusing tuing tuing ^0^v

Wokeh, saatnya membaca tulisan ana yaa. Met baca..

Lulus itu pasti, kapan itu pilihan. Seorang aktifis tidak harus lulus tepat waktu, namun “Harus lulus pada waktu yang tepat”. Semua itu akan indah dan manis pada waktunya, insya Allah. Adakah jundi-jundi baru penerus dakwah?

Kalimat diatas bukanlah kalimat yang melemahkan kita agar berlama-lama dalam kuliah dan menunda-nunda kelulusan. Tentunya kelulusan itu senantisa selalu kita harapkan, dan menjadi anugerah terbesar dalam catatan kehidupan kita. Karena masa-masa kuliah dan aktifitas kampus adalah masa yang sangat indah. Simaklah perkataan dari seorang Ukhti ketika menyampaikan ke ana melalui sms;

“Walaupun jasad ana di***, tetapi hati dan pikiran ana tetap di Purwokerto. Ana tidak mungkin melupakan dakwah kampus, karena dari sanalah ana mengenal tarbiyah, ana mengenal islam dengan lebih baik dan ana begitu merasakan indahnya berjuang bersama teman-teman di dakwah kampus, subhanallah”

Ada juga yang mengatakan bahwa lulus kuliah itu bukan sebuah kepastian, tetapi sebuah pilihan. Tergantung pada usaha dan kemauan kita sendiri. Kenapa saya katakana bahwa lulus itu sebuah kepastian? Karena dalam cita-cita awalnya, lulus kuliah merupakan sebuah parameter seseorang telah berhasil menyelesaikan masa studinya di sebuah Universitas. Tentunya dalam kacamata Akademik. Lulus kuliah juga merupakan amanah bagi kita, karena mihwar dakwah ini bergerak begitu cepat dan membutuhkan jundi-jundi baru untuk mengisi lahan dakwah yang lain, masyarakat. Kapanpun dan dimanapun kita berada, tugas dan ‘profesi’ kita tetap sama, yaitu seorang da’i, seorang aktifis dakwah yang senantiasa menyeru dan mengajak manusia kepada cahaya Allah. Seorang yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada thogut, menuju penghambaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ikhwah fillah, sebuah strategi dan perencanaan yang matang sangatlah diperlukan agar terjadi keharmonisan antara cita-cita dan realita dakwah di lapangan (di kampus). Perencanaan itu juga memerlukan sebuah keberanian untuk mengambil keputusan, manakala orang tua kita menuntut kita agar segera menyelesaikan masa studi. Sikap tegas yang diaplikasikan dengan keberanian memberikan kepastian kepada orang tua, merupakan sikap dewasa dan kemandirian diri kita. Namun hal ini sangat jarang dilakuakan. Bisa jadi karena kita memang tidak mempunyai keberanian itu, atau memang tidak mempunyai proyeksi dakwah yang jelas atau bisa jadi kita merasa sudah cukup menjadi seorang ADK dan merasa sudah cukup memberikan kontribusi yang besar bagi dakwah, jika ditanyakan siapa yang dapat mengukur dan menilai itu semua, tentu kita tidak tahu. Karena kita marasa sudah banyak berkorban dan merasa sudah banyak berkontribusi, padahal realita dilapangan ternyata tidak seperti yang kita rasakan.

Kita tahu bahwa orang tua mengharapkan kita menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang bermanfaat serta dapat menjadi pemimpin dan penopang hidup bagi keluarga.

Namun, bagaimana jika kelulusan kita itu ternyata tidak memiliki ruh dakwah? Tidak ada kader generasi penerus kita yang sadar bahwa kita sebenarnya sudah lulus. Tidak ada generasi penerus kita yang siap ditinggalkan oleh kita. Tidak ada generasi yang melanjutkan roda dakwah yang sedang berputar cepat. Tidak ada generasi penerus kita yang menangis karena merindukan tausyiah- tausyiah kita. Merindukan saat doa robithoh dibacakan. Apakah kita akan meninggalkan generasi-generasi yang lemah??

Mungkin kita adalah seorang yang sholeh lagi berilmu. Tetapi ilmu dan kesholehan kita itu ternyata tidak dirasakan oleh adik-adik kita, lantaran kita terlalu sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.
*****

Ikhwah fillah…
Coba kita tengok sejenak wajihah yang akan kita tinggalkan itu! Kita renungkan dan fikirkan bersama. Sudah siapkah mereka kita lepas? Sudah menjadi kader yang kuatkah mereka? Apa yang sudah kita wariskan untuk menjaga ashsholah dakwah ini? Sudah dapat menjadi konseptor-konseptor dakwahkah mereka? Sudahkah kita merumuskan ingin dibawa kemana wajihah yang akan kita tinggalkan itu?

Ada satu hal yang menurut saya sangat penting, dan ini menjadi trend dikalangan aktifis dakwah. Saya semakin diyakinkan lagi karena membaca langsung sms-nya. Kesalahan makna “Transformasi-Penurunan” itu terletak pada selesainya kita memberi segudang catatan dakwah, satu bundel data-data kader, awetan catatan organisasi, tukar-pikiran, menyampaikan konsep-konsep dakwah karena tidak lama lagi sang kader akan lulus.
Teringat perkataan murobbi saya yang sampai saat ini masih saya ingat dengan jelas. Didunia syiasi kampus siapa yang tidak mengenal sosok beliau? Saat itu saya dan beliau sedang jalan bareng di jalan gunung selamet, persis di depan bengkel motor Pak Syafi’i. Sambil jalan, kita berbincang tentang dakwah kampus Unsoed.
Beliau mengatakan, “Semua kader dakwah itu sama, yang membedakan adalah ketaqwaan dan ‘amal-nya. Transformasi yang baik dan efektif adalah ketika kita melibatkan kader-kader dakwah dalam setiap agenda dakhwah. Bukan transformasi lisan”.
Barokallah fik untuk yang sudah lulus, tetap bersemangat untuk yang berjuang menuju kelulusan, mari bersama rapatkan barisan menuju Unsoed Islami 2020. Allahu Akbar!!
*****
Penulis : Agus Supriyadi
Tulisan selanjutnya :
Bencana menyalahi keputusan syuro.
Miskin kayakinan akan pertolongan Allah.
*****
Doain ya, moga aja bisa kelar sebelum pada Musyang dan Muktamar. Thanks a lot for Maher Zain nasyid yang udah menamani ana menulis tulisan ini. My Favorit Album, “Thanks Allah-Alhamdulillah”. Makasih juga untuk Akh Amin Herwanto yang udah minjemin komputernya (Ayo mas, digarap skripsinya! Ganbatte Kudasai), Akh Baim yang udah minjemin motornya, dan Akh Tatang yang udah selalu bersemangat bertanya sama ana tentang Dakwah Kampus. Soory ya bro, sering minjem. Hee..
Jayalah selalu Al-Battar!!
*****
(Kos paling adem yang pernah gue singgahin, dibelakangnya sawah terhampar, didepan kebun yang hijau dan disampingnya kolam ikan membentang. Apalagi pas ujan turun tuh. Tarik selimut maaaaanng..Bobo)