Ditulis oleh; Agus Supriyadi

Purwokerto, 4  Juni 2009. Tulisan ini merupakan resume dari Dauroh Marhalah II KAMMI Purwokerto.

Pemateri : Ust. Hamim Tohari, B.IRKH

Mengapa saya menjadikan Al-Ikhwanul Muslimin menjadi referensi gerakan politik? Pada awalnya kita harus objektif dengan gerakan politik yang lain untuk mempelajari seluk beluk tentang gerakan tersebut. Jika saya mereferensikan Ikhwanul Muslimin sebagai alat utama gerakan dakwah, menunjukkan bahwa sistem perpolitikan Islam sudah “ultra modern”. Ikhwanul Muslimin telah menetapkan asholah sebagai ideologi secara applicable sesuai dengan kebutuhan umat kini.

Kepada apakah kita menyeru manusia? Hasan Albanna menyampaikan, kami menyeru kalian dalam keadaan kita membawa al-quran di sebelah tangan kanan dan as-sunah di tangan kiri dengan panduan langkah para salafus shalih. Berbeda dengan di Amerika yang tidak melihat sejarah kebelakang untuk membangun Amerika, karena tidak memiliki cetak birunya. Sedangkan islam memiliki cetak birunya secara jelas dengan ideologi dan manhaj yang sempurna.

Politik yang benar-benar memiliki sebuah usaha untuk mengelola sebuah masyarakat atau negara dengan nilai kepemimpinan yang baik, baru dapat direalisasikan oleh kehidupan masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

Dan umat ini dengan sangat briliant, bahwa manhaj dan ideologinya dapat diimplementasikan dalam kehidupannya. “Peradaban baru mencapai ketangguhan, apabila terbukti tangguh bertahan selama 500 tahun, menurut sosiolog Perancis”. Di Indonesia, Soekarno mencoba menerapkan ideologi NASAKOM, lalu Soeharto dengan Pancasila-nya, dan era-Reformasi dengan era Civil Society. Tapi arahnya masih BELUM JELAS dan belum mencapai tujuan kebangsaan.

Oleh karena itu, perlu kita mereferensikan gerakan politik Islam yang telah terbukti mampu bertahan selama 1000 tahun. Maka kita perlu mengi’tiba dalam referensi gerakan politik Islam kita. Banyak yang mempertanyakan gerakan transnasional. Padahal pihak lain pun mencoba mereferensikan pemikiran barat. Padahal jelas Islam mampu menjawab persoalan yang dihadapai bangsa. Hal yang wajar apabila setiap pihak memiliki referensinya untuk gerakan politiknya. Yeah, its fine..

Politik dalam Ikhwanul Muslimin bukan politik ansih, politik yang bermakna intrik dan penuh intimidasi, tapi politik Ikhwanul Muslimin yang diperjuangkan adalah al-Islam, bukan partai politik, meskipun politik sendiri bagian dari pilar – pilar Islam. Kondisi politik di Mesir saat itu tidak mencerminkan moralitas, saling membenci dan mengintimidasi. Inilah perpolitikan yang tidak memiliki integritas moral, tidak memiliki toleransi dalam membangun negara. Dalam politik islam, bertolong-tolonglah dalam kebaikan dan janganlah tolong menolong dalam pelanggaran dan dosa.

Dan tidak mengapa meminta bantuan atau memanfaatkan pengetahuannya atau bekerja sama, dalam hal tidak berhubungan dengan kebijakan umum strategis. Tapi ada prinsipnya, berdasarkan menempati kaidah Universal Islam.

Karakter dari pemikiran politik Ikhwanul Muslimin, politik yang universal, politik yang holistik. Bahwa untuk menjadi bagian dalam Ikhwanul Muslimin, ada arkanul baiah yang menjadi landasan pembentukan karakter kader IM. Hasan Albanna adalah seorang pemikir visioner. Beliau telah mempersiapkan sarana-saran atau washilah pergerakan (software). Sehingga langkah setelah Hasan Albanda telah tiada, pengikutnya dapat melanjutkan pergerakannya. Arkanul pertama adalah al-fahmu dengan 20 prinsipnya. Pemikiran Hasan Albana merupakan cetak biru, sehingga pengikutnya tinggal menguraikan cetak biru tersebut.

“Ibarat kita sudah mengetahui petanya. Itulah pemikiran Hasan Albana. Umat dan negara. Moralitas yang berkekuatan. Ada kasih sayang dan keadilan. Pengetahuan dan Perundang-undangan. Ilmu dan peradilan. Usaha dan kekayaan. Jihad dan dakwah. Tentara dan intelektual. Aqidah dan ibadah”.

Setelah Al-fahmu dan al-ikhlas, maka harus beramal (al-amal). Hasan Albana telah memberikan tahapan amal. Ada 7 tahapan amal:

  1. Memperbaiki diri (Mereformasi diri) beserta standar kebaikan diri tersebut yang disebut 10 muwwashofat, (salimul aqidah, sohihul ibadah, matinul khuluq, qowwiyul jism, qodirul alal kasbi, mujahidan linafsihi, muharrisan liwaqtihi, nafi’un lighoirihi, dll)
  2. Membentuk keluarga muslim
  3. Membentuk masyarakat Islam
  4. Memperbaiki negara
  5. Membebaskan negara lain
  6. Guru peradaban (Ustadziatul ‘Alam)

“Kita harus memiliki referensi untuk melakukan pergerakan sebagai acuan dan panduan gerak langkah perjuangan dakwah. Oleh karena itu, Bismillah…saya memilih Al-Ikhwanul Muslimin ini sebagai referensi Gerakan Politik dan Dakwah, Bukan Salafi, Bukanpula Hizbut Tahrir atau yang lain”.Agus Supriyadi