Ditulis oleh : Agus Supriyadi

Purwokerto. Selasa, 12 Januari 2011. Pukul; 16.35-18.38 WIB

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (terbiasa) terlihat” (Q.S An-Nuur 24: 31)

Ibnu Abbas mengatakan, “setan dalam diri seorang wanita terdapat pada tiga tempat. Yaitu didalam pandangannya, hatinya dan sikap lemah lembutnya”.

Hatiku, Hatimu, Berhati-hatilah!

Ada banyak hal yang membuat orang merasa tidak nyaman ketika sedang berinteraksi dengan lawan jenis. Banyak faktornya, misalnya performace lawan bicara yang tidak rapih, pandangan mata yang terlalu di umbar dengan alasan, “gua kan anak siasyi, wajar dong, boleh dong” sehingga kurang menjaga pandangan, illfell dengan gaya bicara yang terlalu ‘tinggi’, sudah underestimate duluan, “ah! gua males ama lo, lelet, banyak alesan, ga progresif” atau “apapun yang elo omongin, tetep aja konsep lo ga bisa gua terima”, dan tentunya masih banyak lagi faktor yang lain.

Perkataan Ibnu Abbas ~rahimahullah~ diatas sangat tepat dan mewakili apa yang saya rasakan ketika sedang berinteraksi dengan akhwat, tepatnya dikalimat terakhir yang beliau sampaikan, “..dan sikap lemah lembutnya..”. Perkataan beliaupun pernah saya kirim ke beberapa akhwat sebagai tausyiah melalui short message service.

Dimata saya, sosok akhwat itu sangat berbeda dengan perempuan yang lainnya (non akhwat-red), mereka begitu sangat istimewa, auratnya tertutup rapat, rapih dengan jilbab lebar yang berkibar, memakai kaos kaki panjang, dan pergelangan tangannya dilengkapi dengan manset, subhanallah. Dan jujur, saya sangat ta’dziem-sangat menghormati, karena perjuangannya dalam menjaga izzah begitu luar biasa, hal inilah yang menjadikan akhwat begitu berbeda dengan ikhwan, subhanallah. Tapi ingatlah wahai ukhti..ada dua hal yang itu tidak bisa antum tutup, yaitu sikap dan suara antum.

Rasululloh ~sholallahu ‘alaihi wassalam~ menyampaikan dalam sebuah hadistnya bahwa, “suara wanita itu adalah aurat”. Aurat adalah sesuatu yang tidak boleh orang lain melihatnya, sesuatu yang harus ditutupi. Yang saya fahami dari hadist ini adalah, suara wanita itu menjadi aurat manakala menimbulkan syahwat bagi ikhwan (laki-laki), sehingga secara tidak sadar telah menimbulkan fitnah (ujian keimanan).

Menurut hemat saya, anti tidak bisa menjamin suara anti bernilai aurat atau tidak dan tidak ahsan rasanya jika kita berburuk sangka dengan mengatakan, “ya elah akh..itumah antumnya aja yang gak bisa jaga hijab”. Jagalah suara anti dengan tidak bersuara terlalu pelan dan terlalu lembut. Hilangkan perasaan jaim dan niat untuk “menjaga hijab”. Alih-alih ingin menjaga hijab, tetapi tanpa sadar telah membuat saudara anti yang ikhwan menjadi tidak nyaman. Contohnya adalah saya sendiri. Dalam hal ini, anti wajib berhati-hati. Waspadalah!

Secara fitrah islam, seorang ikhwan mendambakan sosok seorang akhwat untuk menjadi ‘teman sejati’ (istri-red) dan saya yakin begitupun sebaliknya, akhwat juga mendambakan sosok ikhwan yang akan menjadi ‘imam’-nya kelak. Itu sudah menjadi mindset semua kader dan aktivis islam. Iya kan?

Tahukah antum wahai ukhti? Bagi saya, sikap dan bicara lemah lembut antum justru sangat mengganggu komunikasi dan hati saya. Entahlah..tetapi saya benar-benar merasa terganggu dan menjadi sangat tidak nyaman. Tentunya tidak lantas menjadikan antum berubah 180 derajat menjadi sosok akhwat yang jutek dan pemarah.

Ketika saya merasa tidak nyaman, biasanya saya akan diam beberapa saat, menutup mata dengan tangan, tarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sambil beristighfar. “astaghfirullahal adzim”.

Imam Syafi’I ~rahimahullah~ pernah menyampaikan; “wanita itu pada dasarnya menyenangkan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah”.

Dulu ketika saya masih di kaderisasi ukmi, pernah pernah protes dengan ukh ****, “’afwan ukh, tolong suaranya jangan pelan dan lembut gitu, ganggu ane”. Eeh..dia nya malah marah, “’afwan akh, sudah karakter ane seperti ini, nanti malah jadi aneh dan seperti orang lagi marah-marah”. Ala kulihal, sepertinya saya memang harus banyak belajar memahami orang lain, walaupun terasa berat untuk ane sendiri.