Resume Kajian Tafsir Ust Muhibbin Bakrun, Lc, Ahad @ Masjid Fatimatuzzahro.

Ditulis oleh; Agus Supriyadi

Purwokerto, 27 Januari 2011. Cuma catatan ringan saja..

Kafir itu digolongkan menjadi dua; yang pertama kafir harbi (kafir ini memiliki pemimpin dan bergerak memerangi kaum muslimin), yang kedua adalah kafir dzimi (kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, dan ketika piagam madinah, kaum kafir dzimi dilindungi, tidak diperangi dan hanya membayar pajak saja).

Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai seorang muslim terhadap mereka? Orang yang beriman diperintahkan untuk I’rab yaitu, berusaha menyempitkan dan tidak memberi peluang kepada mereka, kepada kafir dzimi kita meminimalisir geraknya.

1. Sikap kita yang lain, kepada kaum kafir

  1. Jangan kagum kepadanya
  2. Mereka tidak mengetahui makna hidup yang sebenarnya
  3. Keimanan yang baik, mencintai dan membenci karena Allah

2. Sikap kita kepada ahli bid’ah

Bid’ah digolongkan menjadi dua, yaitu;

1. Bid’ah mukafarah, yaitu bid’ah yang membuat pelakunya menjadi kafir.

Misalnya; melakukan tawaf dikuburan.

2. Bid’ah mufasaqoh, yaitu bid’ah yang membuat pelakunya dihukumi sebagai orang fasik. Misalnya; wirid-wiridan

Mensikapi ahli bid’ah melebihi kafir dzimi. Mereka adalah mustansif, orang yang membutuhkan petunjuk, mereka belum memahami ilmu dengan baik.

  1. Sikap kita kepada ahli Ma’siat

Orang yang melakukan kemaksiatan berangkat dari sebuah keyakinan maka dia telah kafir. Contohnya; Zina itu boleh. Riba itu boleh walaupun sedikit (Padahal ada sebuah hadist; yang menjelaskan, “Janganlah engkau riba dengan berlipat-lipat”)

Ghosob; meminjam dan mengembalikan barang dengan tidak memberi tahu.

Jangan sering berkumpul dengan pengadu domba, sering membuat janji, dan saksi palsu.

Kita tetap wajib mendakwahkannya, memberi nasihat dan tetap menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Merubah kemaksiatan itu tidak mudah, ia harus diminimalisir sedikit demi sedikit dengan hikmah (ilmu), percatan dan sikap yang baik.

Hak seorang muslim saat berbicara.

  1. Memenuhi dan membantu kebutuhan orang lain.

Contoh paling sederhana; menjawab pertanyaan dengan wajah yang ceria. Seorang mukmin tidak bertanya, kecuali dia sangat membutuhkannya. Dia tidak bertanya jika tidak penting dan membangun.

  1. Berbicara dan diam jika dibutuhkan oleh orang lain, seperlunya saja.
  2. Orang otoriter; biasanya melontarkan pertanyaan, “untuk apa sih?“. Jika ada orang atau yang membutuhkan jawaban ketika dia bertanya.
  3. Diam; tidak membongkar aib pada diri teman kita
  4. Wajib hukumnya tidak melakukan dan memanggil sesuatu yang dia tidak menyukainya. Boleh memanggilnya dengan nama kunyah; Abu Jibril, Abu Ahmad
  5. Doa yang paling mustajab; Doa seorang teman yang pergi jauh, tidak ada ditempat. Doanya akan diamini oleh malaikat.
  6. Selalu tidak memberikan beban kepada teman. Jika kita minta tolong, yakinlah bahwa kita tidak memberi beban kepadanya.