TAUHID
Oleh : Ust. Langlang Buana II

Sebagus-bagus sebutan adalah sebutan Nabi Nuh ‘alaihissalam, yaitu abdan syakura, hamba yang pandai bersyukur. Sebab menjadi hamba itu susah apalagi ditambah sebutan pandai bersyukur, lebih mudah jadi majikan, jadi tuan.

Kita ini dalam banyak hal lebih berlaku sebagai majikan daripada hamba. Kalau doa tidak dikabul sesuai harapan, marah. Marah itu perilaku majikan bukan perilaku hamba. Kalau dapat takdir yang tidak enak protes, kenapa begini, kenapa begitu. Protes itu perilaku majikan bukan perilaku hamba. Kalau diseru shalat, santai, cuek. Santai dan cuek itu gaya bos, bukan gaya buruh. Kalau punya keinginan selalu harus. “Harus” adalah gaya tuan bukan gaya budak.

Jadi di mulut kita menyebut hamba Allah tapi di hati kita, kita ini merasa majikannya Allah, Allah lah yang jadi hamba kita -wal iyadzu billah-. Yang harus nurut terus sama keinginan kita, kalau tidak nurut diprotes, kenapa Allah begini sama saya, kenapa Allah begitu sama saya. Pantas kalau Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata dengan sangat singkat sekali : “Kenapa” adalah matinya tauhid.

Mari perbaharui tauhid kita.🙂