sbyApa enaknya hidup di zaman Soekarno ? tanya saya pada ayah yang mengalami masa-masa kolonial. Lebih enak zaman Pak Harto, katanya. Di zaman Soekarno kita cuma bisa makan pidato, kata ayah saya yang pandu Masyumi ini. Perut lapar dikasih pidato, krisis ekonomi dihibur pidato, memang saat pidato suasana gegap gempita sejenak, setelah itu baru terasa ternyata perut belum makan nasi, di dapur beras sudah tidak ada.

Era Soekarno memang cocok di era Revolusi, pada era pembangunan maka yang dibutuhkan adalah Hatta, Natsir, atau Habibie, para teknokrat pekerja. Pidato yang menggebu-gebu dan berapi-api memang membakar jiwa dan pikiran, setelah pulang acara kembali pikiran pun harus disadarkan bahwa semua yang dibicarakan di mimbar podium itu hanya monolog-teatrikal. Pidato menggebu hari ini bukanlah eranya, itu mundur ke belakan saat era perang Dunia I dan II, era Hitler, era Musollini, era Napoleon, era revolusi bersenjata. Apalagi bila pidato itu hanyalah sekadar seni berbicara yang sepi dari ruh.

Dia memang membakar emosi, memarahkan jiwa, juga mengalirkan air mata, tapi kata Imam Ahmad pada seorang pemuda ” apa yang salah antara aku dan engkau, pidatomu bagus tapi sama sekali tidak berbekas di hatiku. ” Ya, selesai pidato bekas itu hilang, tiada bekas perubahan apa pun seperti yang digaungkan dalam isi pidato. Semua seperti semula lagi, bahkan mungkin makin menjadi, makin absurd, makin tak jelas. Saat pidato dalam acara Muhammadiah, Soekarno sangat berapi-api di depan Buya Hamka berbicara tentang ” gelora api tauhid ” begitu menakjubkan, tapi selesai itu kembali Soekarno menjadi Soekarno, dan Buya Hamka masuk penjara. Hanya retorika atau kata ayah saya, “makan pidato”.

Oleh: Ust. Langlang Buana II