romantisme-pernikahan*SEJARAH PERKEMBANGAN BATASAN USIA MINIMUM MENIKAH*

Oleh : Ust. Rudi

Kaum Kristiani dan Islami-phobia paling gemar melabeli Nabi kita sebagai pedhopilia alias pecinta anak kecil — wal iyadzu billah — karena menikahi Aisyah r.a dalam satu riwayat di usia 7 tahun dan mencampurinya di usia 9 tahun. Jawaban sederhana yang sering saya jawab adalah ” nenek kamu juga dulu nikah rata-rata umur segitu. itu wajar di zaman dahulu. “

Nikah usia muda 9 tahun masih ada walau tidak sebanyak dulu setidaknya di daerah Indramayu-Cirebon, di sana kadang 12 tahun sudah janda. Masih ABG banget kan ? Kawan saya sekolah dulu juga banyak yang kalau sudah kelas 3 SD, guru bilang ” waah sebentar lagi nikah “ soalnya mereka sudah haid dan berbeda dengan anak kota yang manja, anak kampung amat mandiri dan terbiasa memikul beban kehidupan. Benar saja, baru kelas 5, sudah banyak kawan-kawan perempuan yang menikah dan tidak lanjut sekolah.

Berbeda dulu berbeda sekarang, saat ini banyak perempuan menua tanpa suami. Bahkan kata Ustad Abdurrahman — salah satu tokoh sepuh gerakan Islam — akhwat-akhwat kita menua di sekolahan. Sampai kuliah mungkin usia 23 an, sama orang tuanya disuruh cari kerja mungkin sampai 25 tahun, setelah itu diminta ngumpulin uang dulu dan membalas ke orang tua bisa sampai 30 tahun. Mau nikah muda atau tua silahkan itu pilihan, yang penting jangan zina dan jangan pula kurang matang. Nah, masalah kematangan ini juga relatif. Zaman dulu, anak lebih cepat matang dan dewasa. Contoh Panglima Besar Soedirman saja menjabat panglima tidak kurang usia 30 tahunan. Saat ini mungkin usia itu masih asyik facebookan. Usamah bin Zaid jadi panglima usia 17 tahun, zaman sekarang usia begitu paling lagi doyan maen game sambil minta duit sama orang tua. Itu anak laki-lakinya, pun sama anak wanitanya. Bila anda lihat anak-anak putri yang nyantri di pesantren tradisional, usia 13-14 tahun mereka sudah pintar mengerjakan aneka pekerjaan rumah tangga. Anak sekarang apalagi aktivis kampus, mungkin goreng telor saja hancur (pengalaman di kampus saat acara masak-masak). Jadi keadaan zaman memang mempengaruhi kematangan kepribadian. Jangan jangan heran kalau dulu anak usia 9 tahun sudah pada dilamar, apalagi di zaman sayyidatina Aisyah yang dulu banget, seribu lima ratus tahun loh jeda zamannya.

Saat ini 2013, zaman millenium loh, atau malah titanium🙂, usia minimum menikah di Spanyol adalah 13 tahun dan usia boleh berhubungan seks 12 tahun dan baru hari-hari ini direvisi menjadi 16 tahun. Jadi komnas anak dan pegiat feminisme jangan norak kalau ada anak SMP di Indonesia sudah menikah, apalagi yang sudah SMU kayak kasus Aceng Fikri di Garut kemarin. Pada tahun 1880 di Eropa pertama kali ditetapkan usia nikah minimum 12-13 tahun. Itu tahun 1880 loh, sedangkan Sayyidatina Aisyah r.a itu nikah kira-kira tahun 600 an M. Baru pada tahun 1920 ditetapkan usia minimum menikah di Eropa 14-15 tahun dan di Inggris serta Amerika 16 tahun. Tahun 1920 loh, bukan tahun 600 an M. Jadi kaum Kristiani, Feminisme, Islami-phobia jangan asal menuduh Rasulullah s.a.w sebab kakek-nenek moyang anda di mana anda berasal darinya di zaman itu memang umumnya segitu usia nikahnya. Di Indonesia saja di era kolonial, umum orang nikah kalau sudah haid, termasuk nenek anda mungkin, apakah kakek anda juga pedhopilia ? Tidak bukan ? Cinta agama boleh, tapi menyerang tanpa mengetahui sejarah dan peradaban suatu bangsa itu justru perilaku masyarakat tidak beradab. Oke, selamat malam. Islam Jaya !