puskomda

Para santri yang dibesarkan dalam lingkungan Nahdliyyin, mereka memiliki platform nilai ke NU-an yang kental dalam menafsir teks-teks agama. Begitu pula para thullab yang aktif di Persis, mereka punya cara pandang yang khas pula dalam memahami nash-nash agama. Pun begitu mereka yang tumbuh besar di madrasah-madrasah Salafi. Dengan kekhasan nilai dan pemahaman keagamaan itulah mereka maju mempertahankan nilai mereka masing-masing.

Yang kasihan adalah mereka yang tidak tumbuh dari madrasah-madrasah keilmuan dan langsung diceburkan saja ke dalam ganasnya rimba pergerakan. Kosong, polos, yang ada hanya sebuah semangat yang menyala. Gamang dan bingung, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Apalagi gerakan yang dia ikuti tidak mempunya platform nilai yang jelas. Memahami konsep bid’ah seperti Salafi, tapi tahlil yes, maulid yes. Jadinya Salafi bukan, NU juga tidak. Semua yes, para pemudanya daripada bingung-bingung dibiarkan saja lah seperti itu tanpa platform nilai yang jelas yang penting ukhuwah. Bila para aktivis tanpa platform nilai ini ditanya, mana yang benar Tahlil atau tidak Tahlil, jawabannya normatif saja : semua benar.

Loh kok semua benar, yang satu nuduh masuk neraka yang satu merasa itu sudah jalan surga bisa disebut semua benar ? Akhirnya, nasib aktivis tanpa platform nilai ini tidak ke sana juga tidak ke sini. Niat menyatukan semua golongan malah ditolak semua golongan karena dianya tak ngerti apa-apa tentang detail perbedaan tiap golongan dan mana batasan benar dan tidak benar dari sebuah pendapat serta konsekuensi dari perbedaan itu, apakah menyebabkan kekufuran, menyebabkan pelakunya disebut ahli bid’ah, atau hanya khilafiyah yang mu’tabar. Karena itulah saya menilai amat penting bagi semua aktivis dakwah untuk menemukan posisi keberagamaan dan keislaman mereka sendiri di tengah ramainya peta dakwah dan gerakan Islam di Indonesia. Dan tentulah itu harus dibentuk dari sebuah madrasah dan kaderisasi keilmuan sebelum kaderisasi amal, atau setidaknya berjalan bersama. Terus menyerukan ukhuwah pada jama’ah-jama’ah yang sangat mendalami model penafsiran keislaman mereka masing-masing hanya dengan tiga jurus sakti : ” ah itu kan khilafiah, perbedaan furu’ saja, yang penting ukhuwah “ yang tidak berubah-ubah dari jaman muda dulu sampai tua seperti sekarang sesungguhnya merupakan tanda bahwa kita sedang menutupi ketidaktahuan kita akan kekhasan dan ragam penafsiran agama yang ada.

Seruan itu akan dianggap angin lalu bagi para jama’ah-jama’ah yang beragam itu, mungkin akan dikatakan ” sesungguhnya anda tidak mengenal metode kami dalam beragama, tidak mengenal metode lawan kami, dan juga tidak mengenal metode siapa pun bahkan anda tidak punya metode apa pun, jada bagaimana anda akan bisa mencari titik temu ? bagaimana anda akan mempertemukan orang yang sedang bersilang jalan sementara anda tidak tahu tiap mereka sedang berada di jalan mana dan bahkan anda tidak tahu jalan anda sendiri.” — wallahu a’lam

Penulis: Ust. Langlang Buana II